Brompton Jajal Jateng Loop, Andhika Kobo Tembus Podium

  • 12 Mar 2026 23:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ajang ultra cycling Brompton Ultra Challeng Jawa Tengah (BUC Jateng) Loop 2026 berlangsung sengit dengan start dan finis di Hotel Santika Yogyakarta pada 13–15 Februari 2026. Para peserta ditantang menaklukkan rute panjang melintasi sejumlah wilayah di Jawa Tengah sebelum kembali ke Yogyakarta. Dalam kompetisi ini, pesepeda Faisal Rifai keluar sebagai juara pertama, disusul Abah Ustman di posisi kedua, Pandu Arizal di posisi ketiga, Heru Balikpapan di posisi keempat, dan Andhika Kobo di posisi kelima.

Andhika Kobo yang turun menggunakan sepeda lipat Brompton mengaku sempat ragu sebelum mengikuti event tersebut. Minimnya latihan membuatnya hampir mengurungkan niat. Namun dorongan untuk mencoba tantangan baru akhirnya membuatnya tetap berangkat. “Awalnya ragu karena jarang latihan, tapi akhirnya tetap gass ikut Jateng Loop tahun ini,” ujarnya.

Menurut Andhika, rute Jateng Loop sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan. Ia menilai jalur tersebut tergolong sedang dibandingkan beberapa event ultra cycling lain yang pernah digelar oleh komunitas BOGI(Brompton Owner Indonesia). Meski demikian, panjangnya jarak dan akumulasi kelelahan tetap menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta yang mengayuh tanpa banyak waktu istirahat.

Ia menuturkan, bagian yang paling menguji mental justru bukan di tanjakan terkenal Parakan–Kledung. Tantangan terbesar datang saat memasuki jalur panjang dari Perempatan Buntu Banyumas menuju Yogyakarta. “Jalannya lurus dan monoton, sementara tenaga sudah hampir habis. Itu yang benar-benar menguji mental,” katanya.

Kebersamaan di garis finis BUC Jateng Loop 2026 di Hotel Santika Yogyakarta. (Foto: Panitia)

Kondisi tubuh yang lelah dan kurang tidur juga menjadi bagian dari perjuangan selama lomba. Namun Andhika mengaku tetap mengayuh dengan satu tujuan sederhana, yakni segera mencapai garis finis. “Yang ada di pikiran hanya ingin cepat selesai supaya bisa tidur setelah finis,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan sepeda Brompton dengan ukuran ring 16 inci membuat kecepatan rata-ratanya hanya berkisar 18–20 kilometer per jam. Hal itu membuat perjalanan terasa sangat panjang. “Satu jam hanya bertambah sekitar 20–25 kilometer, jadi terasa lama sekali di jalan,” ujarnya.

Untuk bisa finis di bawah 35 jam, Andhika menerapkan strategi sederhana. Ia memilih tidak mencari penginapan agar tidak terbuai kenyamanan. “Kalau sampai tidur di penginapan pasti jadi lama. Saya hanya istirahat sebentar di masjid atau warung sekitar 15 sampai 20 menit,” katanya.

Saat akhirnya kembali ke garis finis di Yogyakarta, rasa bahagia langsung muncul setelah perjalanan panjang tersebut. Ia menilai podium yang diraih merupakan bonus, sementara pencapaian terbesar adalah mampu menuntaskan tantangan dengan selamat sekaligus membawa nama komunitas Brompton Yogyakarta. “Yang penting bisa finis di bawah cut off time. Itu kebahagiaan tersendiri dan kebanggaan bisa mewakili tim Brompton dari Yogyakarta (BYK),” ujarnya.

Saat akhirnya kembali ke garis finis di Yogyakarta, rasa bahagia langsung menyelimuti dirinya. Ia menilai podium hanyalah bonus, sementara keberhasilan finis di bawah batas waktu cut off time menjadi pencapaian terbesar. “Bahagia akhirnya bisa finis. Mendapat nomor itu bonus, tapi bisa finis di bawah COT adalah kebahagiaan karena berhasil menyelesaikan tantangan dengan selamat,” ucapnya. Ia juga menyebut pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi komunitas Brompton Yogyakarta yang telah memberikan dukungan penuh sepanjang persiapan hingga perlombaan.

Rekomendasi Berita