Anggaran Terpangkas, Legislator Jemy Desak KONI Fokus Cabor

  • 14 Feb 2026 21:07 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah 2026 yang akan digelar di Morowali, tantangan besar dihadapi kontingen Kabupaten Tolitoli. Tantangan tersebut bukan terletak pada kesiapan mental atlet, melainkan kondisi fiskal daerah yang tengah tertekan akibat rasionalisasi anggaran dari pemerintah pusat.

Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Jemy Yusuf, mengingatkan agar persiapan keberangkatan atlet dilakukan secara rasional dan terukur. Menurutnya, pola lama memberangkatkan seluruh cabang olahraga tanpa mempertimbangkan potensi prestasi sudah tidak relevan dengan kondisi keuangan daerah saat ini.

Jemy mengungkapkan, pada awalnya pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,5 miliar untuk mendukung KONI Tolitoli pada tahun 2026. Namun, jumlah tersebut terkoreksi seiring penurunan signifikan dana transfer dari pemerintah pusat.

“APBD kita turun dari 1,14 triliun rupiah menjadi sekitar 980 miliar rupiah. Ada penurunan hampir 100 miliar, sementara belanja sektor kesehatan dan pendidikan justru harus ditingkatkan,” ujar Jemy kepada RRI Tolitoli, Jumat (13/2/2026).

Dengan keterbatasan tersebut, Jemy meminta KONI Tolitoli tidak memaksakan diri memberangkatkan seluruh cabang olahraga. Ia mencontohkan pengalaman Porprov sebelumnya di Banggai, dimana Tolitoli mengirimkan 23 cabor, namun hasil perolehan prestasi tidak mengalami peningkatan signifikan.

“KONI itu mengelola prestasi, bukan eksibisi. Ada cabor yang menyerap anggaran besar, tetapi tidak menghasilkan medali. Ini harus dievaluasi agar tidak berujung pada persoalan hukum akibat penggunaan anggaran yang tidak akuntabel,” tegasnya.

Sebagai solusi, Jemy mengusulkan agar pemerintah daerah memfokuskan dukungan penuh kepada 11 cabang olahraga unggulan yang selama ini konsisten menyumbang medali emas, di antaranya taekwondo, panjat tebing, biliar (POBSI), silat, dan karate.

Meski mendorong efisiensi ketat, Jemy tetap menyemangati para atlet agar tidak patah arang. Ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran seharusnya tidak memadamkan semangat pembinaan dan prestasi olahraga daerah.

“Habis badai pasti ada pelangi. Daripada terus mengutuk kegelapan karena anggaran terbatas, lebih baik kita menyalakan lentera dengan fokus pada potensi yang benar-benar bisa berprestasi,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita