(Foto sudah diganti) Alief Syachviar: Piala Dunia 2026 Bisa Dipindah
- 10 Mar 2026 11:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Federasi sepak bola dunia FIFA bisa memutuskan mencabut status Amerika Serikat sebagai tuan rumah FIFA World Cup 2026. Pengamat sepak bola Alief Syachviar menyebut keputusan tersebut dapat diambil jika konflik geopolitik dinilai mengganggu keamanan penyelenggaraan turnamen
Alief menilai konflik geopolitik dapat berdampak pada penyelenggaraan turnamen sepak bola dunia. Situasi keamanan global dinilai bisa memengaruhi keputusan penyelenggara terkait lokasi turnamen besar.
Ia mencontohkan pengalaman Indonesia saat kehilangan status tuan rumah FIFA U-20 World Cup 2023. Penolakan terhadap kehadiran tim Israel memicu polemik politik di dalam negeri.
Menurut Alief, polemik tersebut akhirnya membuat Indonesia batal menjadi tuan rumah. Sebagai gantinya, Indonesia kemudian dipercaya menggelar FIFA U-17 World Cup 2023.
“Indonesia sebenarnya sudah dipersiapkan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Namun karena adanya penolakan terhadap Israel, akhirnya status itu dialihkan,” ujarnya, Selas, 10 Maret 2026.
Ia menilai kasus tersebut menunjukkan bahwa faktor politik dapat memengaruhi keputusan federasi sepak bola dunia. Pergantian tuan rumah dapat terjadi apabila situasi dinilai tidak kondusif.
Alief mengatakan kondisi serupa secara teoritis juga bisa terjadi pada turnamen besar lainnya. Termasuk FIFA World Cup 2026 yang rencananya digelar di United States, Canada, dan Mexico.
Hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi keamanan global dapat menjadi pertimbangan penting bagi penyelenggara.
“Secara kemungkinan, Piala Dunia bisa saja dipindah jika kondisi keamanan global tidak memungkinkan. Namun untuk saat ini waktunya sudah sangat mepet," katanya.
Meski demikian, Alief menilai pihak penyelenggara setidaknya perlu memberikan pernyataan resmi terkait kesiapan turnamen. Hal itu penting untuk memastikan bahwa situasi geopolitik tidak mengganggu penyelenggaraan kompetisi sepak bola terbesar di dunia tersebut.