Dari Tukang Sapu, Muhlis Sampang Harumkan Indonesia
- 29 Agt 2025 10:48 WIB
- Sampang
KBRN, Sampang: Di tengah kesibukan pagi Kota Sampang, seorang pria menyapu jalanan dengan penuh ketekunan. Namanya Muhlis, pekerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang sehari-hari menjalankan tugasnya dengan senyap. Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi kisah luar biasa: Muhlis adalah seorang atlet tunarungu yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Tiga medali cabang olahraga catur dimenangkannya pada 2nd SEA Deaf Games 2024, di Jakarta akhir Agustus 2025.
Muhlis bukan atlet yang lahir dari fasilitas mewah atau pelatihan elite. Ia adalah sosok yang tumbuh dalam keterbatasan baik secara ekonomi maupun fisik. Terlahir dengan disabilitas tunarungu, ia menjalani hidup dengan tantangan yang tak sedikit. Namun satu hal yang tak pernah padam dalam dirinya adalah semangat untuk belajar dan berkembang. Di sela-sela waktu kerjanya sebagai tukang sapu, Muhlis yang periang mengasah kemampuan bermain catur secara otodidak. Kabid Kebersihan dan Persampahan DLH Perkim Sampang, Aulia Arif menceritakan keseharian Muhlis.
“Meskipun komunikasi antar teman terbatas, tapi Muhlis selalu humble dan periang, sangat rajin bekerja, kalau ada waktu kosong dia suka main catur dengan teman-teman di sini, kemampuan mainnya luar biasa,” tutur Aulia.
Belajar dari pengalaman, dari komunitas lokal, dan dari pertandingan kecil yang ia ikuti. Perlahan tapi pasti, bakatnya semakin terasah. Persatuan Catur Sampang pun melihat potensi besar dalam dirinya dan mulai mendampingi Muhlis untuk mengikuti berbagai kompetisi.
Puncak pencapaian Muhlis terjadi saat ia mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Catur se-ASEAN untuk Disabilitas Tunarungu. Dalam ajang bergengsi tersebut, Muhlis berhasil meraih:
- Dua medali perak di kategori catur kilat dan standar
- Satu medali perunggu di kategori beregu
Muhlis membuktikan bahwa semangat dan kerja keras bisa mengalahkan segala keterbatasan.
Kisah Muhlis bukan sekadar cerita tentang kemenangan. Ini adalah kisah tentang ketekunan, harapan, dan keberanian untuk bermimpi. Ia menjadi simbol bahwa penyandang disabilitas pun bisa bersinar di panggung dunia. Ia juga mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah rumah bagi keberagaman, dan setiap anak bangsa berhak untuk bersinar.