Sistem Budaya Toto Wolff yang Lebih Pentingkan Integritas
- 26 Feb 2026 22:42 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Toto Wolff, Team Principal sekaligus CEO Mercedes-AMG Petronas Formula One Team, menegaskan bahwa ia lebih memilih kehilangan gelar juara dunia daripada mengorbankan nilai dan integritasnya. Menurut laporan cnbc.com, Wolff mengibaratkan budaya tim dalam sebuah perusahaan sebagai “sistem imun” organisasi.
Wolff menekankan dua nilai utama yang harus dijaga, yakni kejujuran dan loyalitas. “Saya akan menyerahkan gelar juara dunia kapan saja demi menjaga integritas saya,” ujarnya. Baginya, mentalitas menang dengan segala cara sudah tidak relevan lagi. Tanpa integritas, kesuksesan hanya akan berumur pendek. Meski begitu, ia mengakui ada organisasi atau tim olahraga yang tetap sukses meskipun tidak menjunjung nilai-nilai tersebut.
Wolff juga menyoroti pentingnya kerendahan hati saat meraih kemenangan. Ia mengingatkan agar tidak memiliki rasa berhak atau merasa kejayaan akan berlangsung selamanya. “Hormati prosesnya dan tetaplah rendah hati,” katanya.
Mercedes sendiri pernah mendominasi ajang F1 dengan delapan gelar konstruktor beruntun pada 2014 - 2021. Dominasi itu dibarengi tujuh gelar juara dunia pebalap berturut-turut, hingga akhirnya dipatahkan oleh Max Verstappen dari Red Bull dalam finis kontroversial di Abu Dhabi Grand Prix.
Wolff menekankan pentingnya memberdayakan orang-orang yang ia rekrut. “Saya bertanggung jawab atas perekrutan dan pengembangan orang yang tepat. Jadi saya harus memberdayakan mereka,” katanya. Ia mengakui bahwa reaksi spontan banyak orang adalah mencari pihak yang bisa disalahkan. Namun menurutnya, dalam banyak kasus, yang gagal adalah prosesnya, bukan individunya. “Kita menyalahkan masalahnya, bukan orangnya,” tegas Wolff.
Terkait gaya kepemimpinan, ia juga membahas istilah “control freak”. Menurutnya, pemimpin memang harus mengetahui segala hal yang terjadi di organisasi, tetapi tidak perlu mencampuri semuanya. Menemukan keseimbangan antara kontrol dan kepercayaan adalah tantangan tersendiri. Wolff pun mengakui dirinya sosok yang emosional dan sangat bersemangat terhadap olahraga ini.
Sejak remaja, Wolff sudah terjun ke dunia motorsport dan sempat bercita-cita menjadi pebalap. Namun keterbatasan finansial membuatnya beralih ke dunia modal ventura. Jalan itu justru membawanya kembali ke balap ketika ia membeli saham tim Williams Racing dan menjadi direktur eksekutifnya. Pada 2013, ia meninggalkan Williams untuk memimpin divisi motorsport Mercedes.
Dalam mengelola tim yang berisi ribuan talenta, Wolff menekankan bahwa ia tidak memberikan perlakuan khusus kepada pebalap dibandingkan karyawan lainnya. “Saya memiliki 2.500 superstar. Saya tidak membedakan antara pebalap dan karyawan lain,” katanya.
Baginya, kunci keberhasilan bukanlah membentuk tim yang terdiri dari individu-individu superstar, melainkan menciptakan “superstar team”, yakkni tim yang solid dan saling mendukung. Prinsip itulah yang menjadi fondasi budaya Mercedes selama di bawah kepemimpinan Toto Wolff..