Piala Dunia 2026: Presiden FIFA Tekankan Persatuan Ditengah Konflik Geopolitik

  • 04 Mar 2026 17:10 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Kurang dari 100 hari menjelang Piala Dunia 2026, citra global Amerika Serikat menghadapi sorotan tajam. Pengetatan imigrasi, polarisasi politik, dan konflik bersenjata dengan Iran membayangi persiapan ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Turnamen edisi kali ini akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berbagi peran sebagai tuan rumah bersama dalam gelaran akbar yang diproyeksikan menyedot jutaan penggemar.

Sebelumnya, antusiasme publik terlihat dari penjualan tiket yang diklaim memecahkan rekor oleh FIFA. Banyak pertandingan dilaporkan terjual habis, menciptakan optimisme besar bagi industri pariwisata dan perhotelan di kawasan tuan rumah.

Namun situasi berubah setelah Presiden AS Donald Trump kembali berkuasa dan mengeluarkan berbagai kebijakan kontroversial. Tingkat kunjungan wisatawan disebut menurun, membuat sektor perhotelan kian bergantung pada sekitar tujuh juta penggemar sepak bola yang diperkirakan datang.

Ketegangan meningkat ketika Washington melancarkan serangan udara besar ke Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ali Khamenei. Ancaman operasi lanjutan selama berminggu-minggu memicu ketidakpastian, termasuk kemungkinan boikot dari tim nasional Iran.

Di tengah situasi tersebut, Presiden FIFA, Gianni Infantino tetap menekankan pesan persatuan global menjelang hitung mundur pembukaan. Ia menggambarkan Piala Dunia sebagai momentum yang mampu menyatukan dunia di tengah periode yang penuh tantangan.

Selain konflik Timur Tengah, hubungan AS dengan Kanada dan Meksiko juga memanas akibat kebijakan tarif dan retorika keras terhadap kedua negara tetangga itu. Bahkan muncul ancaman intervensi militer terhadap Meksiko serta pernyataan kontroversial soal kemungkinan menjadikan Kanada sebagai negara bagian baru.

Kebijakan pembekuan visa imigran bagi puluhan negara turut berdampak pada empat peserta Piala Dunia, termasuk Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading. Meski visa turis tidak secara resmi dihentikan, ketidakpastian proses dan kekhawatiran perlakuan di bandara membuat sebagian penggemar ragu untuk berangkat.

Di dalam negeri, operasi besar-besaran oleh aparat Imigrasi dan Bea Cukai memicu kontroversi setelah menelan korban jiwa warga sipil. Kekhawatiran bahwa penegakan hukum dapat menyasar pengunjung berdasarkan latar belakang etnis atau aksen turut menyebar di kalangan suporter internasional.

Sementara itu, Meksiko menghadapi tantangan keamanan setelah tewasnya pemimpin kartel narkoba yang memicu gelombang kekerasan di sejumlah wilayah, termasuk Guadalajara yang akan menjadi lokasi pertandingan. Meski otoritas setempat menyatakan situasi masih terkendali, dinamika politik dan keamanan di tiga negara tuan rumah tersebut menambah daftar persoalan yang membayangi pesta sepak bola terbesar di dunia tahun ini.

Rekomendasi Berita