Kluivert Dipecat: Konsekuensi Logis Kegagalan, Pelajaran Mahal PSSI
- 16 Okt 2025 17:24 WIB
- Tanjungpinang
KBRN, Tanjungpinang: Pemberhentian Kluivert dan jajaran pelatih asal Belanda tidak mengagetkan. Bisa dikatakan ini merupakan konsekuensi logis dari hukum sepak bola.
Pengamat Sepak bola Indonesia, Mohammad Kusnaeni, mengatakan pelatih yang gagal memenuhi target idealnya memang menyadari kegagalannya. Selanjutnya, dia memberi kesempatan pelatih lain yang mungkin lebih tepat.
“Pemberhentian Kluivert ini tidak mengagetkan,” kata Mohammad Kusnaeni, Kamis (16/10/2025).
Menurut Kusnaeni, Kluivert datang ke timnas Indonesia pada momen yang kurang tepat. Ia datang saat timnas sedang dalam fase yang sangat krusial menuju Piala Dunia. Dan ia tidak punya cukup pengalaman kepelatihan maupun manajerial menghadapi situasi kritis seperti itu.
“Ia datang pada moment yang kurang tepat disaat Timnas krusial menuju Piala Dunia,” ujarnya.
Ekspektasi publik sangat besar terhadap keberhasilan timnas. Ditambah lagi Kluivert menggantikan pelatih sebelumnya yang disukai oleh publik dan dianggap cukup berhasil.
“Kluivert ini mengganti pelatih yang ianggap cukup berhasil oleh masyarakat,” katanya.
Sayangnya Kluivert gagal memenuhi ekspektasi publik itu. Secara prestasi, ia cuma mempersembahkan dua kemenangan dari enam laga resmi.
“Tidak meyakinkan dalam permainan Indonesia, keputusan kurang akurat berujung hasil buruk,” tuturnya.
Secara permainan, Kluivert juga tidak mampu memberi warna baru atau meningkatkan level permainan timnas. Bisa dibilang, di tangan Kluivert timnas masih berkutat di lubang yang sama: kurang tajam, kurang kreatif, dan sering bikin kesalahan sendiri.
Sialnya, Kluivert juga beberapa kali terjebak dalam eksperimen yang gagal. Keberanian mengubah pola dari 3-4-3 ke 4-2-3-1 lalu menurunkan line up yang penuh kejutan ternyata tidak dibarengi hasil yang positif.
Secara umum, Kusnaeni menilai Kluivert tidak cukup mendalam pemahamannya tentang timnas dan sepak bola Indonesia. Mungkin karena ia kurang sering berada di lndonesia.
Kekurangpahaman itu yang membuat banyak keputusannya kurang akurat. Lalu berujung pada hasil-hasil yang mengecewakan.
Pemberhentian Kluivert sama sekali tidak mengagetkan. Ini sekaligus menjadi pelajaran mahal bagi PSSI agar lebih bijak, semakin hati-hati, dan mau mendengar masukan publik (bukan hanya segelintir orang) dalam membuat keputusan yang sangat penting.
“Pelajaran mahal bagi PSSI agar lebih bijak membuat keputusan,” katanya, mengakhiri.