Janice Tjen Bangkitkan Kejayaan Tenis Putri

  • 24 Feb 2026 03:29 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Masih ingat kapan terakhir kali petenis putri Indonesia mengangkat trofi juara tunggal di level WTA Tour sebelum tahun lalu?

Butuh waktu penantian panjang selama 23 tahun, sejak era keemasan Angelique Widjaja pada 2002, hingga akhirnya seorang gadis bernama Janice Tjen datang mendobrak sejarah itu.

Kisah Janice sepanjang musim 2025 benar-benar layak difilmkan. Mengawali tahun dari peringkat 411 dunia, ia perlahan tapi pasti menyingkirkan keraguan. Turnamen demi turnamen dilalui dengan penuh determinasi, hingga peringkatnya melesat tajam menembus jajaran elit. Sebuah lompatan yang bukan hanya soal angka, tetapi tentang mentalitas dan keyakinan.

Trofi tunggal di Chennai Open menjadi penanda kebangkitannya. Gelar ganda di Guangzhou Open semakin menegaskan kapasitasnya sebagai pemain komplet. Ditambah enam gelar ITF yang disapu bersih, 2025 menjadi tahun emas yang mengubah peta tenis putri Indonesia.

Memasuki 2026, Janice membuka lembaran baru dengan mental baja. Ia sempat menantang raksasa tenis dunia seperti Iga Swiatek di Qatar dan Liudmila Samsonova di Abu Dhabi—dua pengalaman berharga yang mengasah ketangguhan dan memperkaya jam terbangnya di level tertinggi.

Kini langkahnya berlanjut ke benua Amerika. Janice tampil di ajang bergengsi WTA 500 Merida Open yang berlangsung 23 Februari hingga 1 Maret 2026. Tidak main-main, ia turun sebagai unggulan keenam dan kini bertengger di peringkat 46 dunia—sebuah posisi prestisius yang mencerminkan konsistensinya.

Ujian pertama datang dari petenis Kolombia, Camila Osorio. Meski Osorio merupakan juara bertahan WTA 250 Bogota dan dikenal tangguh di lapangan keras, di atas kertas Janice memiliki keunggulan peringkat, dengan Osorio berada di posisi 62 dunia. Pertemuan ini diprediksi menjadi duel sengit yang menguji fokus dan daya tahan.

Tak hanya di sektor tunggal, Janice juga turun di nomor ganda bersama Katarzyna Piter. Mereka akan menghadapi pasangan Brooks/Feng di laga pembuka—tantangan lain yang menuntut chemistry dan strategi matang.

Perjalanan lintas benua ini bukan sekadar perburuan poin dan trofi. Lebih dari itu, ini adalah misi kebangkitan. Janice Tjen membawa harapan baru, mengibarkan Merah Putih di panggung dunia, dan mengingatkan bahwa Indonesia pernah—dan kini kembali—disegani di peta tenis putri internasional.

Rekomendasi Berita