Raymond/Joaquin dan Pelajaran Mahal di Istora
- 26 Jan 2026 09:44 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Istora Senayan sudah bergemuruh sejak siang hari. Namun pada final ganda putra Daihatsu Indonesia Masters 2026, gemuruh itu perlahan berubah menjadi helaan napas panjang. Bukan karena Raymond Indra/Nikolaus Joaquin tampil tanpa perlawanan, melainkan karena kemenangan yang sempat di depan mata justru terlepas di saat paling menentukan.
Pasangan muda Indonesia tersebut akhirnya harus mengakui keunggulan ganda Malaysia, Nur Izzuddin/Goh Sze Fei, lewat dua gim langsung, 21-19, 21-13. Trofi pun dibawa pulang ke Negeri Jiran.
Gim pertama sejatinya berlangsung hidup dan ketat. Raymond/Joaquin sempat tertinggal, lalu perlahan merapatkan jarak hingga 18-19. Momen itu terasa seperti sebuah pintu—jika berhasil didobrak, arah final bisa saja berubah.
Namun final selalu punya hukum paling kejam. Poin-poin akhir tak memberi ampun pada kesalahan sekecil apa pun. Beberapa kekeliruan di saat krusial membuat gim pertama akhirnya jatuh ke tangan Izzuddin/Sze Fei.
Joaquin mengakui, secara permainan mereka sebenarnya mampu mengimbangi lawan di gim pembuka. Penyesalan datang karena kesalahan sendiri di titik-titik penentuan.
“Di golden point atau di poin akhir saya melakukan kesalahan yang memang seharusnya tidak dilakukan. Harusnya dapat poin, malah berbalik,” ujarnya.
Memasuki gim kedua, grafik permainan Raymond/Joaquin menurun drastis. Mereka seperti kehilangan pegangan. Kesalahan beruntun membuat jarak skor melebar, bahkan sempat tertinggal jauh hingga 6-20, kondisi yang nyaris mustahil untuk dikejar.
Menariknya, Joaquin menyinggung faktor yang jarang disadari penonton, namun sangat terasa di lapangan: adaptasi angin, terlebih karena mereka baru pertama kali tampil di lapangan satu.
“Kesulitannya ada di lapangan karena kami belum pernah main di lapangan satu, masih butuh adaptasi anginnya. Ini jadi pelajaran. Kami harus siap main di lapangan mana saja,” ungkapnya.
Ia juga mengakui, di gim kedua lawan tampil sangat rapi dan menekan sejak pukulan awal hingga permainan depan. Sebaliknya, Raymond/Joaquin justru terlalu sering “membuang poin” sendiri.
Pasangan muda ini memang kerap dikenal terlibat psy war, bahkan dengan seniornya. Namun mereka menegaskan, itu bukan bentuk pelecehan, melainkan strategi kecil untuk menjaga rasa percaya diri.
“Kalau mau tengil, tengil aja, bisa menambah confident. Tapi tidak boleh berlebihan, sewajarnya saja.”
Kalimat tersebut seolah merangkum karakter Raymond/Joaquin: berani, sedikit nakal, namun tetap sadar batas.
Turnamen ini sendiri tetap memberi senyum bagi Indonesia. Satu gelar berhasil diamankan, datang dari sektor tunggal putra lewat Alwi Farhan, yang tampil luar biasa dengan kemenangan telak atas wakil Thailand 21-5, 21-6 hanya dalam waktu 25 menit.
Bagi Raymond/Joaquin, final ini memang terasa pahit. Namun pahit yang sering kali menjadi bahan bakar. Karena bagi pasangan muda, kalah di final bukanlah akhir cerita—seringnya justru bab pertama dari sesuatu yang lebih besar.