Setelah 20 Tahun, Christian Horner Meninggalkan RedBull Racing

  • 10 Jul 2025 08:58 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Garasi Formula 1 dan dunia balap kembali dihebohkan dengan keputusan besar, setelah Christian Horner resmi diberhentikan dari posisinya sebagai prinsipal tim dan CEO Oracle Red Bull Racing. Pengumuman ini disampaikan pada Rabu, 9 Juli 2025, menandai berakhirnya perjalanan 20 tahun pria asal Inggris tersebut bersama tim yang telah ia bawa meraih kesuksesan luar biasa.

Keputusan ini datang di tengah musim 2025 yang penuh tantangan bagi Red Bull Racing. Tim yang dikenal dominan di beberapa tahun terakhir tampak mengalami penurunan performa, ditambah dengan dinamika internal yang rumit, termasuk pengunduran diri sejumlah figur kunci. Sebelumnya pada awal tahun ini, Horner dua kali lolos dari tuduhan perilaku tidak pantas setelah menjalani investigasi internal, isu yang sempat mengguncang komunitas Formula 1.

Red Bull GmBH, perusahaan induk tim, mengonfirmasi pelepasan Horner dari tugas operasionalnya secara efektif per 9 Juli 2025. Penggantinya, Laurent Mekies, kini ditunjuk sebagai CEO Red Bull Racing, sementara Alan Permane diangkat sebagai prinsipal tim. Perubahan kepemimpinan ini diumumkan mendadak, dengan pernyataan resmi dirilis menjelang malam hari waktu UTC, menimbulkan spekulasi lebih lanjut tentang masa depan tim, termasuk hubungan dengan bintang tim, Max Verstappen, yang dikenal dekat dengan Horner.

Melalui akun resmi X-nya, Oracle Red Bull Racing menyampaikan ucapan terima kasih kepada Horner atas dedikasinya. Dalam postingan yang dipublikasikan pada 19:00 UTC (9 Juli 2025), tim menulis, "Terima kasih atas kenangan dan pencapaian yang akan meninggalkan warisan abadi di Milton Keynes untuk generasi mendatang”. Postingan tersebut disertai gambar yang menyoroti statistik impresif di bawah kepemimpinan Horner, termasuk 287 podium, 107 pole position, 124 kemenangan, dan 6 kejuaraan konstruktor.

Kepergian Horner meninggalkan tanda tanya besar bagi Red Bull Racing. Selama dua dekade, ia berhasil mengangkat tim pendatang baru yang dikenal dengan pestanya menjadi salah satu kekuatan dominan di Formula 1. Namun, dengan perubahan struktur kepemimpinan dan tekanan kompetitif yang meningkat, masa depan tim ini kini menjadi sorotan.


Rekomendasi Berita