Doctor Sócrates, Ketika Sepak Bola Jadi Sarana Bersuara
- 31 Jan 2026 05:31 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Nama Sócrates memang tidak tercatat sebagai juara Piala Dunia bersama Brasil, namun warisannya bisa dirasa melampaui trofi dan statistik. Di era 1970–1980-an, gelandang karismatik berjanggut khas ini menggunakan sepak bola sebagai alat perlawanan terhadap kediktatoran militer Brasil dan sebagai panggung untuk menyuarakan demokrasi. Hingga kini, di tengah sepak bola modern yang kerap terseret kepentingan politik, figur Sócrates justru terasa semakin relevan.
Dilansir dari tribunemag.co.uk, Sócrates dikenal luas sebagai salah satu pemain paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia. Dengan rambut ikal, janggut ala Che Guevara, serta postur jangkung 193 cm, ia tampil bak simbol revolusi di lapangan hijau. Pada Piala Dunia Meksiko 1986, meski gagal mengeksekusi penalti penentuan saat Brasil tersingkir dari Prancis di perempat final, citranya dengan ikat kepala sederhana, dibuat dari kaus kaki rekan setim, melekat kuat di ingatan publik dunia.
Ikat kepala itu bukan sekadar aksesori. Sepanjang turnamen, Sócrates menyelipkan berbagai pesan sosial dan kemanusiaan, mulai dari “Yes to Love, No to Terror”, “No Violence”, hingga pesan pertamanya yang paling kuat, “México Sigue En Pie” (Meksiko Tetap Berdiri). Pesan tersebut merujuk pada gempa dahsyat Mexico City tahun 1985 yang menewaskan ribuan orang dan membuka ketimpangan sosial di negara tuan rumah. Kepada tribunemag.co.uk, Sócrates menjelaskan bahwa Piala Dunia memberinya kesempatan langka untuk menyoroti realitas sosial saat seluruh dunia sedang menatap.
Bukan hanya di panggung internasional, keberanian politik Sócrates justru paling terasa di level klub. Setelah bergabung dengan Corinthians pada 1978, ia menjadi figur sentral gerakan Democracia Corinthiana. Gerakan ini menantang rezim militer Brasil yang berkuasa sejak 1964 dengan menerapkan sistem demokrasi langsung di dalam klub. Semua keputusan, mulai dari jadwal latihan hingga urusan kecil seperti berhenti sejenak dalam perjalanan bus tim, diputuskan lewat voting bersama.Model pengelolaan yang demokratis ini bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga terbukti efektif. Corinthians meraih gelar Campeonato Paulista pada 1982 dan 1983 di bawah sistem tersebut. Mantan rekan setimnya, Casagrande, menyebut bahwa keberhasilan Democracia Corinthiana tak lepas dari sosok Sócrates yang cerdas, politis, dan sangat dihormati, sehingga menjadi “perisai” bagi gerakan itu.Gerakan ini kemudian meluas ke ranah nasional. Pada 1982, para pemain Corinthians turun ke lapangan dengan kaus bertuliskan “Dia 15 Vote” (Memilih di Tanggal 15) untuk mendorong partisipasi publik dalam pemilu multipartai pertama di era militer. Setahun kemudian, mereka membentangkan spanduk besar bertuliskan “Ganhar ou Perder, Mas Sempre com Democracia” (Menang atau Kalah, Tapi Selalu dengan Demokrasi). Aksi-aksi ini menjadikan sepak bola sebagai bahasa politik yang mudah dipahami masyarakat luas.Sócrates juga terlibat aktif dalam gerakan Diretas Já yang menuntut pemilihan presiden secara langsung dan berkontribusi pada transisi demokrasi Brasil pada 1985. Bahkan, dalam satu momen legendaris, ia berjanji tidak akan meninggalkan Brasil jika amandemen konstitusi untuk pemilu langsung disahkan. Meski amandemen itu gagal, Sócrates tetap menjadi simbol perlawanan moral terhadap rezim.Yang membuatnya semakin unik, Sócrates bukan pesepak bola biasa. Ia adalah dokter lulusan fakultas kedokteran, perokok berat, peminum, dan menyebut dirinya sendiri sebagai “anti-atlet”. Di lapangan, ia dikenal sebagai gelandang cerdas dengan umpan-umpan indah dan gol-gol flamboyan. Bagi banyak orang Brasil, Sócrates bukan sekadar legenda sepak bola, melainkan simbol keberanian moral. Ia menunjukkan bahwa pemain bola tidak harus netral atau diam, dan bahwa olahraga dapat menjadi sarana perlawanan terhadap ketidakadilan. Di era modern, ketika suara atlet sering teredam oleh kepentingan bisnis dan politik, semangat “Doctor Sócrates” tetap menjadi inspirasi yang sulit tergantikan.