Ganda Putri UNEJ Raih Emas di PORNIKES 2026
- 17 Feb 2026 21:48 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Di sela padatnya jadwal kuliah dan praktikum, dua mahasiswi dari Universitas Jember membuktikan bahwa mimpi tak pernah menunggu waktu luang. Ia diperjuangkan di sela lelah, di antara buku kuliah, dan di tengah riuhnya tekanan pertandingan.
Adalah Indy Eprita Salza Nabilah dari Fakultas Kedokteran angkatan 2022 dan Amanda Cynthia Margaretta dari Fakultas Kesehatan Masyarakat angkatan 2022 yang berhasil berdiri di podium tertinggi cabang olahraga badminton kategori ganda putri dalam ajang Pekan Olahraga Seni dan Kesehatan Internasional 2026.
Kejuaraan yang digelar di STIKes Husada Jombang pada 7–8 Februari 2026 itu mempertemukan 32 peserta dari berbagai universitas. Di antara puluhan pasangan yang bertanding, duet UNEJ ini tampil konsisten hingga akhirnya mengamankan gelar juara 1 tingkat internasional.
Tahun lalu, langkah mereka terhenti di posisi kedua. Kekalahan itu tak dilupakan, justru dijadikan bahan bakar. Target tahun ini sederhana, tetapi penuh tekad: juara pertama.
“Target kita tahun ini memang juara 1, karena tahun lalu sudah juara 2,” ungkap Indy Selasa, 17 Februari 2026.
Ambisi itu tak lahir dari kepercayaan diri semata, melainkan dari proses. Latihan fisik rutin seminggu sekali menjadi pondasi, meski intensitas latihan di lapangan baru bisa dimaksimalkan sepekan sebelum keberangkatan. Sebelumnya, keduanya hanya menyempatkan diri berlari dan menjaga kebugaran di tengah padatnya jadwal akademik.
Bagi mahasiswa kedokteran dan kesehatan masyarakat, waktu adalah kemewahan. Praktikum, tugas, dan jadwal kuliah yang berbeda fakultas membuat mereka harus pandai mencocokkan ritme.
“Karena kita latihan sambil kuliah, jadi kadang merasa capek nyocokin waktu untuk latihan. Ditambah lagi partner yang berasal dari fakultas yang berbeda,” jelas Indy.
Namun justru di sanalah kekuatan mereka teruji—bukan hanya pada teknik pukulan dan strategi permainan, tetapi pada komitmen dan komunikasi.
Pertandingan final menjadi ujian paling berat. Suasana gedung yang panas membuat stamina menurun. Sorak-sorai suporter lawan yang memenuhi arena menambah tekanan psikologis. Detak jantung beradu dengan kerasnya smash dan dropshot.
“Deg-degan banget pas final, ditambah suporter dari pihak lawan lumayan bikin pressure. Suasana gedung yang panas juga bikin stamina drop,” kenangnya.
Namun semua kegelisahan itu luruh ketika nama mereka diumumkan sebagai juara. Ledakan rasa lega, pelukan tim, dan kilatan kamera menjadi penutup manis perjuangan panjang.
“Pas pengumuman rasanya meledak senang, disambut tim, foto bareng, lega dan pengen ulang terus,” ujarnya.
Kemenangan ini bukan sekadar balas dendam atas kekalahan tahun lalu. Ia menjadi simbol bahwa mahasiswa mampu berjalan seimbang antara akademik dan prestasi non-akademik. Di tengah tuntutan menjadi tenaga kesehatan masa depan, Indy dan Amanda menunjukkan bahwa disiplin dan mimpi bisa tumbuh berdampingan.
Bagi UNEJ, capaian ini menambah deret prestasi sekaligus menjadi motivasi bagi atlet kampus lainnya untuk berani melangkah, meski waktu terasa sempit dan tantangan tak sedikit.
Di lapangan badminton itu, dua mahasiswi telah menuliskan cerita tentang kerja keras, konsistensi, dan keyakinan bahwa kekalahan bukan akhir, melainkan jeda sebelum kemenangan.