Sejarah Lapangan Badminton Gedung A'Luck, Justru Lapangan Pertama
- 18 Feb 2026 17:12 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli – Lapangan Badminton Gedung A’Luck kini menjadi alternative bagi pecinta bulu tangkis di Kota Gunungsitoli.
Diresmikan sejak tanggal 6 Februari 2026 yang lalu, lapangan badminton milik BNKP ini terus berbenah untuk menjadi lapangan favorit bagi badminton lovers, apalagi tempatnya yang strategis di pusat kota Gunungsitoli.
Pendeta Agus Salam Harefa pengelola Lapangan Badminton Gedung A’Luck mengatakan pihaknya banyak menerima masukan dan dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti.
“Kita memang masih baru yah, dan kita terus berbenah, kita terbuka untuk masukan dan saran yang membangun, termasuk saran dalam hal warna cat dinding lapangan, sekarang ini kan putih dan banyak mengeluh lapangan menjadi silau karena warna lantainya juga putih, kita akan segera ganti warna cat dindingnya,” ucapnya.
Namun sejak dibuka ungkapnya, animo masyarakat bermain di lapangan tersebut cukup tinggi bahkan setiap hari bisa selesai hingga pukul 24.00 WIB, sehingga pihaknya sedang mencari waktu yang tepat untuk melakukan renovasi lapangan.
Untuk tarif pemakaian lapangan sebutnya bagi yang melakukan pemesanan (booking) 1 jam Rp26 ribu, free 1 shuttlecock dan 1 air kemasan untuk wasit, sedangkan bagi yang datang saja tanpa memesan dan menunggu giliran main, per jam Rp20 ribu, harga bola Rp20 ribu (bisa dibeli di tempat bisa juga bawa sendiri).
Di dalam gedung terdapat 2 kamar mandi serta kantin mini yang menyediakan minuman, makanan cepat saji dan telur rebus.

Lebih jauh Pendeta Agus mengatakan meski terkesan sebagai pendatang baru di arena lapangan badminton, namun sebenarnya lapangan ini justru menjadi lapangan badminton pertama di pulau Nias.
“Jadi saya tahunya pas peresmian, jadi beberapa orang yang mantan pemain dan pelatih bulutangkis di Nias ini menuturkan kalau dulu gedung ini waktu masih bernama gedung Nasional, justru dijadikan sekaligus sebagai lapangan bulu tangkis, jadi ini lapangan bulu tangkis pertama, mungkin sekitar tahun 70-an atau 80-an menurut cerita mereka,” katanya.
Hadirnya Lapangan Badminton A’Luck seakan menjadi ajang nostalgia bagi pecinta bulutangkis yang pernah menjajal lapangan ini puluhan tahun yang silam.
Ngomong-ngomong soal nama A’Luck, ia mengungkapkan ini merupakan nama salah seorang misionaris BNKP.
“Jadi bacanya A’Luck saja yah, apa adanya, karena memang bukan bahasa Inggris, ini nama misionaris yang pernah menginjil di Nias, jadi bacanya aluk saja,” ucap Pendeta Agus Salam Harefa.